Di era serba digital saat ini, anak-anak semakin akrab dengan gawai dan internet sejak usia dini. Media digital menawarkan peluang besar untuk belajar, berkreasi, dan berinteraksi, namun di sisi lain juga membawa tantangan yang tidak bisa diabaikan. Orangtua dan guru dituntut untuk hadir, bukan hanya sebagai pengawas, tetapi sebagai pendamping aktif yang membimbing anak agar bijak menggunakan media digital. Menyadari pentingnya peran ini, Tree Homeschool, sebuah lembaga pendidikan nonformal di Kota Malang, mengadakan seminar khusus yang melibatkan orangtua siswa dengan tema “Menjadi Orangtua Responsif dalam Mendampingi Anak agar Bijak Menggunakan Media Digital.”
Peran Orangtua dalam Pendidikan Kesetaraan
Dalam sistem pendidikan berbasis PKBM (Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat), termasuk di Tree Homeschool, orangtua memiliki peranan besar dalam mendukung keberhasilan anak. Proses belajar di PKBM menekankan fleksibilitas dan kebutuhan individu, sehingga peran orangtua bukan hanya mengantar anak belajar, melainkan juga menjadi mitra yang aktif.
Mereka bertanggung jawab memastikan kehadiran dan kedisiplinan, memotivasi anak menyelesaikan tugas, hingga mendukung pengembangan minat serta bakat di luar akademik. Tak kalah penting, orangtua perlu menjalin komunikasi dengan tutor dan pengelola PKBM agar lebih memahami progres anak, menyampaikan kebutuhan khusus, hingga mengikuti seminar parenting seperti yang diselenggarakan Tree Homeschool.
Kolaborasi yang erat inilah yang menciptakan lingkungan belajar kondusif, selaras antara rumah dan lembaga. Pada akhirnya, fondasi ini yang menumbuhkan karakter, kemandirian, dan keberhasilan akademik peserta didik.
Seminar Tree Homeschool: Menjadi Orangtua Responsif
Seminar yang digelar pada Sabtu, 19 Juli 2025 ini dihadiri para orangtua siswa Tree Homeschool. Kegiatan ini menjadi wujud nyata dukungan lembaga terhadap keluarga dalam menghadapi tantangan era digital.
Dengan menghadirkan narasumber Ibu Indri Savitri, M.Psi., seorang psikolog dan psikoterapis, seminar ini mengupas mendalam bagaimana orangtua bisa menjadi lebih responsif, hadir secara emosional, serta mampu mendampingi anak-anak dalam menggunakan teknologi.
Tema utama yang diangkat adalah bagaimana membangun kesadaran agar anak bijak menggunakan media digital, bukan hanya sekadar membatasi atau melarang.
Diskusi Interaktif: Tanya Jawab Bersama Psikolog
Salah satu sesi paling menarik dalam kegiatan ini adalah tanya jawab interaktif antara orangtua dan psikolog. Melalui sesi ini, orangtua bebas menyampaikan pertanyaan, pengalaman pribadi, serta tantangan sehari-hari saat mendampingi anak berhadapan dengan gawai dan internet.
Topik yang mengemuka cukup beragam, mulai dari bagaimana menghadapi anak yang kecanduan layar, cara mengatur waktu penggunaan gadget, hingga dampak media sosial terhadap perkembangan emosi dan sosial anak.
Psikolog memberikan penjelasan yang tidak hanya teoretis, melainkan juga praktis dan sesuai dengan realitas keluarga. Orangtua mendapat perspektif baru tentang akar permasalahan, sekaligus solusi yang bisa langsung dipraktikkan di rumah.
Manfaat Nyata bagi Orangtua
Kegiatan seminar ini memberikan manfaat yang sangat terasa bagi orangtua. Beberapa poin penting yang muncul dari diskusi antara lain:
Meningkatkan kesadaran tentang risiko penggunaan media digital yang berlebihan, seperti paparan konten negatif, cyberbullying, dan kecanduan layar.
Membekali orangtua dengan keterampilan praktis, seperti membuat kesepakatan waktu penggunaan gadget, mengawasi konten secara bijak, dan memberi alternatif kegiatan non-digital.
Membangun empati dan dukungan antar orangtua melalui forum diskusi, sehingga tercipta jaringan yang saling menguatkan.
Mendorong peran aktif orangtua sebagai pendamping komunikatif, bukan sekadar pengawas.
Dengan pemahaman ini, orangtua semakin siap untuk mendampingi anak agar tetap produktif, kreatif, dan sehat secara emosional dalam menggunakan media digital.
Bijak Menggunakan Media Digital: Tantangan dan Solusi
Di balik peluang besar yang ditawarkan teknologi, terdapat pula berbagai risiko. Tidak sedikit anak yang menghabiskan waktu berjam-jam di depan layar, sehingga berisiko mengalami gangguan konsentrasi, kesehatan mata, bahkan isolasi sosial.
Namun, melarang total penggunaan gawai jelas bukan solusi. Justru orangtua perlu mengajarkan bagaimana bijak menggunakan media digital. Beberapa langkah yang bisa dilakukan antara lain:
Membuat aturan yang konsisten tentang durasi dan jenis konten yang boleh diakses anak.
Memberikan teladan positif, sebab anak cenderung meniru kebiasaan orangtua dalam menggunakan gawai.
Menghadirkan aktivitas alternatif seperti membaca buku, bermain di luar rumah, atau kegiatan kreatif lainnya.
Menjalin komunikasi terbuka, sehingga anak merasa nyaman berbagi pengalaman digitalnya dengan orangtua.
Menggunakan teknologi sebagai sarana belajar, bukan sekadar hiburan.
Melalui pola ini, anak akan terbiasa memanfaatkan teknologi dengan cara yang sehat, bertanggung jawab, dan sesuai dengan nilai keluarga.
Refleksi Bersama: Belajar dari Seminar
Seminar yang diadakan Tree Homeschool bukan hanya memberikan wawasan, tetapi juga menghadirkan ruang refleksi bagi para orangtua. Mereka diajak untuk melihat kembali bagaimana pola pendampingan yang selama ini dilakukan di rumah.
Ada yang menyadari terlalu longgar, ada pula yang terlalu ketat dalam mengatur penggunaan gawai anak. Melalui bimbingan psikolog, orangtua menemukan titik tengah: bagaimana tetap memberi kebebasan, namun dengan batasan sehat.
Kesadaran ini penting, sebab bijak menggunakan media digital bukan berarti menghapuskan teknologi dari kehidupan anak, melainkan menanamkan cara berpikir kritis dan sikap yang bertanggung jawab dalam berinteraksi dengan dunia digital.
Harapan dari Kegiatan Tree Homeschool
Tree Homeschool berharap seminar ini menjadi langkah awal untuk memperkuat kolaborasi antara orangtua dan lembaga dalam mendampingi anak menghadapi era digital. Dengan meningkatnya pemahaman, orangtua tidak hanya sekadar mengawasi, tetapi benar-benar hadir sebagai sahabat belajar bagi anak.
Harapan lebih jauh, orangtua bisa membangun hubungan yang hangat, penuh keterbukaan, serta memberikan arahan yang konsisten. Dengan begitu, anak-anak tidak hanya terhindar dari risiko digital, tetapi juga mampu memanfaatkan teknologi sebagai sarana belajar, berkarya, dan berprestasi.
Kesimpulan
Seminar yang digagas oleh Tree Homeschool menjadi bukti nyata bahwa kolaborasi antara lembaga pendidikan, orangtua, dan tenaga ahli sangat dibutuhkan untuk membimbing generasi muda. Dengan pemahaman yang lebih baik, orangtua bisa menjadi responsif, komunikatif, dan penuh empati dalam mendampingi anak-anak.
Menjadi orangtua di era digital memang penuh tantangan. Namun, dengan keterlibatan aktif dan kesadaran untuk membimbing anak agar bijak menggunakan media digital, tantangan itu bisa berubah menjadi peluang emas untuk membentuk generasi yang cerdas, tangguh, dan berkarakter.